Camat Patuk geregetan, karena rentenir berkeliaran di wilayahnya. Di sebuah dusun dipasang rambu-rambu. Dengan nada geram, Masyarakat 11 Desa deseru untuk memerangi lintah darat. Sebuah lembaga koperasi diterjunkan aktif terlibat membantu memberantas penyakit masyatakat. Di depan sejumlah 50-an waga pedukuhan Jatikuning, Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, R. Haryo Ambar Suwardi, Jum’at 14/3/2014 mengatakan, penyakit kuno yang kembali merebak di 11 Desa di wilayah Kecamatan Patuk adalah lintah darat alias ‘Bank Plecit’.
Menurut Ambar, Bank jenis ini biasa menyasar ibu tumah tangga berpengahsilan pas-pasan. “Padahal,” kata Ambar, “Kami di Patuk sedang menggerakkan roda ekonomi ibu rumah tangga yang bergerak di bidang makanan olahan dari berbagai jenis. Pendapatan mereka kecil, sementara diembat sama Bank Plecit. Bagaimana mungkin mereka bisa berkembang?” Menurut Ambar, hal di atas adalah problem ekonomi cukup serius yang perlu segera diantisipasi. Dimulai dari sisi utara, tepatnya di Desa Ngoro-oro, sebuah barikade dipasang di tepian jalan. Diharapkan, personil Bank Plecit yang beroperasi di kawasan Jatikuning Desa Ngoro-Oro dan sekitarnya, melihat rambu tersebut menjadi berfikir dua kali. Sejauh ini, Haryo Ambar tidak mau menyebut soal siapa subyek lintah darat yang beroperasi di wilayah kecamatan yang dipimpinnya. Ada yang menilai, Ambar sedang menghakimi hantu. “Mau disebut apa pun, kami tak ambil pusing, yang penting, ekonomi rakyat terselamatkan,”kata Ambar di dampingi Kades setempat. Koperasi Kredit Marsudi Mulyo, diwakili Tri Haryanto selaku menejer, menyamut baik pencangangan pembatasan masuknya lembaga keuangan berjenis lintah darat. Dalam posisi ekonomi serba sulit, Tri Haryanto menyarakan agar warga tidak ragu dalam memanfaatkan jasa koperasi.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/bambanwahyuwidayadi/camat-patuk-memburu-rentenir_54f8209ba33311315e8b45bc
